Ini adalah penggalan puisi-puisiku yang telah lampau berlalu.

Sebagai pengobat hati meski tinggal kenangan usang, gersang dan pahit

Dan pastilah, hanya Allah yang mampu menghapus segalanya. Hanya Robbku saja, Aamiin Allahumma Aamiin,…..

 

”AFSUN BIANGLALA HATIKU”

Wahai,,,,,,,,

Engkau yang bertahta di singgasana hatiku

afsunmu begitu memukau laksana bianglala perindu

nada merdu suaramu,,,,

keluhuran budimu,,,

tak mampu terlukiskan dengan rangkaian aksaraku

Wahai,,,,,,,,

Engkau adiratna penghias renda hatiku

ku memilihmu seindah asaku padamu

nakhoda khalifah imamku menuju illahi

ketegasanmu,,,

keras pendirianmu namun lembut hatimu

tak mampu tergores oleh tarian pena di kanvas hatiku

Wahai,,,,,,,

Engkau penoreh bianglala lelakonku

eksistensimu yang semu

Malka tak kasat mata dirimu

betapa tuangkan berjuta kartika dilindap lenteraku

berbunga elok meski berbaur elegi

yang pasti kan merentik di liku hayatku

Wahai,,,,,,,,

Engkau baiduriku laksana buluhperindu

menyayangimu dg segenap kekuranganmu

hadirkanlah bayangmu untukku

jangan biarkan ku menunggu dg tatapan sendu

menatap hampa cakrawala nan membiru

Wahai,,,,,,

Engkau penyejuk di tengahpusaran dahaga hdpku

jujurkan selalu tuturmu

Siddiqkan semua lakumu

muliakan akhlaqul karimahmu

seperti mulianya rosulluloh

dambaku , dian cahya tyas sukmaku,

Duhai,,,,

Engkau Oase di tengah gersangnya sahara sanubariku

cintailah hatiku bukan ragaku

Kasihikalbuku dengan ketulusanmu

Jangan biarkan airmataku menetes karenamu

menetaplah di istana surga hatiku

Duhai,,,

Engkau Afsun Bianglala hatiku

dengarkanlah bisik lirihku

yang menyenandungkan madahpersembahanku

tak henti  untuk kesholehanmu

Duhai,,,,,

Engkau penyemai afeksiku

Jikalau ku tengah merindumu

Do’a bersajadahkan cinta yangmemalungku

bersimbah airmata kasih karenasangat merindumu

sangat dan sangat,,,,,

Hanyalah,,,,

Do’a tulus adalah caraku memelukmu dari jauh

Do’a ikhlas ini adalah caraku mendekapmu dari sini

terbaik dari segala yang terbaik untukmu

itulah munajat terindahku

hingga rasa ini menentramkan hatiku

Duhai

Engkau imaji cintaku,,,

Mulakat maya tanpa rencana

Jangan sampai mendatangkan kemudharatan

namun kemaslahatanlah yang datang

Moga Robbku Maha Pelindung,,,

senantiasa menjaga, melindungimu dgAl AzizNya,,

serta meridhoi tiap jengkallangkahmu,,

Amin Allahumma amin,,,,,

Mohon dengarlah suara hatiku ini

Aduhai,,,,,,,,,,,

Engkau Afsun bianglala hatikuu

Oase terelok anugrah sang Maha segalanya,,,

Dan engkau wahai pelangi

janganlah berhenti,,,

biaskanlah warna warni rasa merinduku slalu

hadirkan meski sekejap bayangnya

di bentangan luas dirgantara kalbuku

Karna dialah afsun bianglala hatiku

Karunia nan indah dari Robbku,,,,

(Memori Oase, Minggu,2 September 2012)

‘MALAIKATKAH KAMU ? ‘

Ada sebuah nama terpahat pada deretan kisahku

Secepat kilat sinar hadirmu bertandang

sekejap singgah,..

selintas merayap,..

di rentang hayatku

di durasi masa rapuhnya keyakinanku

antara rentan yang terakumulasi

antara jenggala belantara seliratku

bermukim cahyamu melentera lindapku

dalam hatiku bertanya “Malaikatkah kamu?”

kau begitu abstrak,..

tak tampak,..

sangat Samar,..

lagi pudar,..

Apakah kau malaikat yang dikirim Robbku tuk menemaniku?

ujarku berbunga-bunga meski hampa terasa,……

Apakah kau malaikat yang diutus Illahiku tuk membenahi akidahku?

tuturku tersungging ria meski sunyi mendera,….

Sungguh keberadaanmu menyulut afeksiku

Sungguh abunku menggelorakan adagioku

Dalam hatiku bertanya ” Malaikatkah kamu?”

terngiang terus pertanyaan itu,…

acap kali ku terkesima oleh kalimahmu

kerap kali ku terbius rayuan budimu

sampai ku rela bermadah syahdu khusus untukmu

Eksistensimu sempat mengusik singgasana rumah hatiku

sosokmu yang tak kasatmata

membuatku ingin merabamu di kanvas impian rinduku,..

menjadikanku ingin mencumbumu dalam mirror imajinasiku

hingga suatu saat,..

kumenyadari akan keterbatasanku,…

dan ketidaksempurnaanku,…

serta rasa bersalahku,….

“Malaikatkah kamu?”

“Malaikatkah kamu?” tanyaku tak jemu

belum sempat kutemukan jawabnya

cahya kilatmu kembali melesat meninggalkanku

kembali airmata kasihku menetes pilu

kembali ku dirundung kesepian berkepanjangan

Duhai Robbku,…….

Jangan sampai afsunku padanya melebihi kecintaanku padaMU

Jangan sampai menggantungkan asaku padanya melebihi AlkarimMu

Duhai Robbku,..

kini kasihku padanya kian mengentalkan tawajuhku padaMu

kini tergantungku hanya kepadaMu

Hanya dan hanya padaMu,……….

tidak kepada makhluk apapun

yang cuma ciptaanMu

biarpun itu Malaikat tampan anugrahMu,…

Wahai Illahi Robbi,……

Syukur haru atas karuniaMu

karena telah Engkau kirimkan seorang Malaikat pelipur bagi hambaMu ini

meski sekejap mata………..

(Cinere, 6 Februari 2012)

“SAHARA DAN OASIS”

Gurun Sahara terhampar luas

Dengus nafas kian lepas

Terik panas menyengat

hati lelah teramat sangat

Langkah tak letih berjalan

mencari istana kebahagiaan.

Fatamorgana samar menggoda

kudapati  ketakbenaran terasa

namun hatilah yang berbicara

walau kaki bengkak melepuh

kutakkan  mengeluh

meski raga merapuh

kutakkan mengaduh

 

.

Setenggak oasis di padang tandus

sejenak lupakan kusutnya benang arus

Tasyakur pada Yang Kuasa

atas reda hausku yang mendera’

Do’a senantiasa membahana

Di tengah bentangan Sahara

Di Oasis nan mulai mengering

Di pijakan pasir tak penat mengais

Linangan air netra kian terkuras habis

Sedu sedanku tersengal

Entah sampai kapan kujadi musafir

alam sekitar mulai tak ramah

Onak  tak segan menusukku perih

 .

Oasis,

adakah tulusmu selalu akan menyejukkanku?

Mungkinkah itu jujurmu selimuti janjimu?

Gumamku,

Harapku,

akankah Sahara Oasis saling isi, asih, asah dan asuh?

Ataukah ibarat kunang-kunang bertandang

lalu terbang ditelan kegelapan malam?

Ataukah cuma sepenggal kasih usang tak berjaman?

Hingga bisikku lirih memanggil

Dimana kamu istana kebahagiaanku?

“DUHAI”

Tatkala kabut dini menyaput mimpi
sesosok samar berulang kali memanggil lembut namaku
setengah terbata suaranyapun kian melemah hingga tak terdengar lagi
sekelebat sosoknya berlari ditelan pekatnya jenggala ratri
tercekat baru sadar, balas kupanggil namanya
terisak ku kukejar sosok yang kukenal penuh wibawa itu

Duhai
panutan masa terindahku
bayang kasih bagi anak2nya
dialah pengukir jiwaku
rindupun membuncah luah
kenang atas kasih tulusnya
lembar memoripun terbaca jelas diingatan
parau gitaku terus menyebut asmanya

Duhai…
kenapa hanya sekejap kau bertandang
adakah kau pun meridukanku?
hingga kau sempatkan singgah dibunga mimpiku
akupun terjaga dari episode tak kentara bernafas asa
sembari masih terisak pilu
juga nafas tersengal
bergegas,,,
seraup air kubasuh bersuci
rinduku memelukmu dengan berbait-bait doa
munajat demi ampunan
pun kebahagiaanmu disana
diharibbanNYA

Aamiin Yaa Robbal ‘alamiin

(Doa tulus utk ayahku tersayang)

AKHIRNYA

Hanya sebuah fatamorgana belaka.Selintas bertandang lalu raib mengalur oleh ketentuanNya.

“KERONTANG”

Gersang kemarau
masih berkepanjangan
hujan tak kunjung datang
oase enggan bertandang
apalagi indahnya pelangi
sebersitpun tak menghalau kerontang
semua membuncah pergi
tanpa peduli
Kapan kesejukan, keindahan itu hadir kembali?
Tulus berhrp pun memohon dg segenap hati
smg Robbku segera mengijabah doa ini..
aamiin

(Cinereku, 10 Sept 2015)

Hangat baskaraMu dipersikan gemintang asa,,
minggu lautan kasih, bersamudra rindu memburu,, kulihat aksaramu bertandang sekejap,,
Sisakan ragu berlimit..
Terdampar ku ϑǐ pantai ambigu hatimu,,